Sponsor

"Ilmu Tanpa Amalan Ibarat Pohon Tanpa Buah" Ilmu Yang Berfaidah Adalah Ilmu Yang Digunakan Atau Dimanfaatkan, Dan Pekerjaan Yang Baik Adalah Pekerjaan Yang Dikerjakan Dengan Baik, Maka Ilmu Harus Dimanfaatkan Dan Harus Dipakai Untuk Memudahkan Dan Menyempurnakan Sesuatu Pekerjaan Agar Baik Hasilnya, Dan Mendatangkan Manfaat Bagi Kita Dan Orang-Orang Disekitar KIta.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, July 29, 2013

MAKALAH PEMBAHASAN TENTANG RASIONALISME



BAB I

PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang
     Pada abad ke-13 di Eropa sudah timbul sistem filsafat yang boleh disebut merupakan keseluruhan. Sistem ini diajarkan disekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Dalam abab ke-14 timbulah aliran yang dapat dinamai pendahuluan filsafat modern. Yang menjadi dasar aliran baru ini ialah kesadaran atas yang individual yang kongkrit.
    Tak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai, dalam era filsafat modern, dan kemudian dilanjutkan dengan filsafat abab ke- 20, munculnya berbagai aliran pemikiran, yaitu: Rasionalisme, Emperisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionisme, Materalisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat hidup, Fenomenologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme. Namun didalam pembahasan kali ini yang akan dibahas aliran Resionalisme (rene Descartes, spiniza, Leibniz),
B. Rumusan Masalah
  1. Apa arti rasionalisme ?
  2. Siapa tokoh-tokoh rasionalisme ?
  3. Bagaimana corak berfikir tokoh-tokoh filsafat ?

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Arti Rasionalisme
Secara etimologis rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata dalam bahasa latin ratio yang berarti “akal”. Menurut A.R. lacey berdasarkan akar katanya rasionalisme adalah : sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal. Selain itu tidak ada sumber kebenaran hakiki.
Sementar itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului dan bebas dari pengamatan indrawi. Hanya pengetahaun yang diperoleh melalui akal yang memenuhi semua syarat pengetahuan ilmiah alat terpenting dalam memperoleh pengatahun dan mengetes pengetahuan. “Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal”.[1]

2.      Pendiri Filsafat Rasionalisme
Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) yang disebut sebagai bapak filsafat modern. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran. Ia menyatakan, bahwa ilmu pengetahuan harus satu, tanpa bandinganya, harus disusun oleh satu orang, sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang umum. Yang harus dipandang sebagai hal yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distinctively). Ilmu pengetahuan harus mengikuti langkah ilmu pasti, karena ilmu pasti dapat dijadikan model cara mengenal secara dinamis.
Rene Descartes yang mendirikan aliran rasionalisme berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal. Hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Dengan akal dapat diperoleh kebenaran dengan metode deduktif, seperti yang dicontohkan dalam ilmu pasti.
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional(skolastik), yang pernah diterima tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khayalan.
Descartes menginginkan cara yang baru dalam berpikir, maka diperlikan titik tolak pemikiran yang pasti yang dapat ditemukan dalam keragu-raguan, Cogito ergo sum(saya berfikir maka saya ada). Jelasya, bertolak dari keraguan untuk mendapatkan kepastian.[2]  
Oleh pelopor rasionalisme, DESCARTES, memang dikatakan dengan amat tegas, bahwa manusia itu terdiri dari jasmaninya dengan keluasanya (extensio) serta budi dengan kesadaranya. Kesadaran ini rohani dan yang bertindak itu sebenarya budilah. Dalam pengetahuan dan pengenalan misalnya, satu-satunya pengetahuan yang benar itu hanya yang bersumber pada kesadaran. Jiwa dan badan memang terhubungkan, akan tetapi hubungan ini sejajar, jadi tidak merupakan kesatuan. Ada pengaruh jiwa kepada badan, akan tetapi pengaruh ini hanya secara materi, tetaplah kedua hal tersebut berdampingan. Dalam pada itu murid-muridnya melihat persesuaian atau harmoni antara badan dan jiwa itu pada pencciptanya. Tuhan dari semula dan dari keabadian sudahlah menyesuaikan dua hal yang bertentangan ini. Sebagai dua buah jam sudahlah jasmani dan rohani dalam manusia disesuaikan oleh penciptanya. Seperti kita ketahui dari renungan rasionalistis ini adalah yang sampai kepada paham panteisme, yaitu SPINOZA.[3]
                                                      
3.      Tokoh-Tokoh Rasionalisme
Tokoh-tokoh terpenting aliran rasionalisme adalah:
1.      Blaise Pascal
2.       Cristian Wolf
3.      Rene Descartes
4.     Baruch Spinoza
5.      G.W Leibnitz[1]
2.      Pemikiran Pokok Descartes, Spinoza, Dan Leibniz
Mereka adalah tokoh besar filsafat rasionalisme sebelum itu, pengertian rasionalisme diuraikan lebih dahulu.
Rasionalisme ada dua macam dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan otoritas, dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme
Sejarah rasionalisme sudah tau sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam filsafat. Pada zaman moderen filsafat, tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes yang dibicarakan setelah ini.
Setelah priodermi rasionalisme dikembangkan secara sempurna oleh liagu yang kemudian terkenal sebagai tokoh rasionalisme dalam sejarah .
A. Deskartes ( 1596-1650)
     Descartes lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650. bukunya di caurs deia methode ( 1537) dan meditations ( 1642) kedua buku ini saling melengkapisatu sama lain. Didalam kedua buku inilah ia menuangkan metodenya yang terkenal itu, metode ini juga sering disebut cogito Descartes, atau metode catigo saja.
     Ia mengatahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokooh-tokoh gereja. Bahwa dasar filsafat vharuslah rasio (akal) untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun orgumentasi yang sangat terkenal.
     Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu segala sesuatu yang dapat diragukan. Didalam mimpi seolah olah seorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (juga) begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan kenyataan gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya seperti bukan mimpi.
Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi dan kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita juga, itu tidak ada. Akan tetapi benda-benda itu sunguh-sunguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi. Hausinasi. Ilusi dan roh halus
B.     Spinoza ( 1632-1677 M)
      Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1677 M. nama aslinya banich SPINOZA. Setelah ia mengucilkan dirinya dari agama yahudi, ia mengubah namanya menjadi benedictus de Spinoza ia hidup dipinggiran kota dan baik Spinoza maupun leibniz ternyata mengikuti pemikiran Descartes itu. Dua tokoh terakhir ini menjadi substansi sebagai tema pokok dalam metafisika mereka, dan mereka berdua juga mengikuti metode Descartes, tiga filosof ini, descartos, spinozo dan leigniz, biasanya dikelompokkan dalam satu mazhab. Yaitu rasionalisme.
Dalam gometri. Spinoza memulai dengan meletakkan defenisi- defenisi, cobalah perhatikan beberapa contoh defenisi ini yang digunakan dalam membuat kesimpulan-kesimpulan dalam metafisika defenisi ini diambil dari Solomon : 73)
Ø  Beberapa defenisi
                                                              i.      sesuatu yang sebabnya pada dirinya saya maksudkan esensinya mengandung eksistensi, atau sesuatu yang hanya dipahami sebagai adanya.
                                                            ii.      sesuatu dikatakan terbatas bila ia dapat dibatasi oleh sesuatu yang lain, misalnya tubuh kita terbatas, yang membatasinya ialah besarnya tubuh kita itu.
                                                          iii.      substansi ialah sesuatu yang ada dalam dirinya, dipaham melalui dirinya, konsep dapat dibentuk tentangnya bebas dari yang lain.
                                                          iv.      yang saya maksud dengan atribut (sifat)ialah apa yang dapat dipahami sebagai melekat pada esensi substansi
                                                            v.      yang saya maksud mede ialah perubahan-perubahan pada substansi
                                                          vi.      tuhan yang saya maksud ialah sesuatu yang terbatas secara absolute (mutlak) sesutau saya sebut disebabkan oleh yang lain, dan tindakan ditentu olehnya sendiri.
                                                        vii.      yang saya maksud dengan kekekalan (etermity) ialah sifat pada aksistensi itu tadi
spinosa berpendapat bahwa apa saja yang benar-benar ada, maka adanya itu haruslah abadi sama halnya dengan tatkala ia berbicara dalam astronomi, defenisi selalu di ikuti oleh aksioma. Aksioma ialah jarak terdekat antara dua titik ialah garis lurus. Cobalah lihat aksioma-aksioma yang dipasangnya dalam metafisika berikut:
Ø  Aksioma-aksioma
                                                      viii.      segala sesuatu yang ada, ada dalam dirinya atau ada dalam sesuatu yang lain.
                                                          ix.      sesuatu yang tidak dapat dipahami melalui sesuatu yang lain harus di pahami melalui sesuatu yang lain harus di pahami melalui dirinya sendiri
                                                            x.      dari suatu sebab tentu di ikuti bila tidak ada sebab tidak mungkin ada akibat yang mengikutinya
                                                          xi.      pengetahuan kita tentang akibat di tentukan oleh pengetahuan kita tentang sebab
                                                        xii.      sesuatu yang tidak bisa di kenal umum yang tidaak akan dapat di pahami konsep tentang sesuatu tidak melibatkan konsep tentang yang lain.
                                                      xiii.      ide yang benar harus sesuai dengan objeknya
                                                      xiv.      bila sesuatu dapat di pahami sebagai tidak adanya maka esensinya tidak ada.

 
Demikianlah kilasan tentang metafisika Spinoza. Ia juga berbicara tentang etika, tetapi tidak kita bicarakan di sini. Kita hanya ingin melihat apa kira-kira sumbangan Spinoza dalam kekalauan pemikiran pada zaman modern itu. Di sini jelas smbngan adalah dalammetafisika.

C.  Lleibniz (1646-1716)
Gotifried willheim von Leibniz lahir pada tahun 11646 dan meninggal pada tahun 1716 dan meninggal pada tahun 1718. ia filosofi jerman matamatikawan, menjadi atasan, pembantu pejabat tinggi Negara. Pusat metafisikanya adalah ide tentang substansi yang di kembangkan dalam konsep monad.
Metafisika leigniz sama memusatkanperhatian pada substansi. Bagi spinoz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza ,alam semesta ini mekanistis dan keseluruhnya bergantung pada sebab, sementara substansi pada leignizadalah tujuan. Penentuan prinsip filsafat (eiguiz ialah prinsip akan yang mencukupi, yang secara sederhana dapat di rumuskan sesuatu harus mempunyai masalah bahkan tuhan harus mempunyai masalah untuk setiap yang di ciptaan-nya. Kita lihat bahwa prinsip ini menuntun filsafat leigniz.
Sementara sfinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, Leibniz berpendapat bahwa substansiitu monad, setiap monad berbeda satu dengan yang lain dan tuhan (sesuatu yang super monad dan satu-satunya monad yang tidak di cipta)adalah pencipta monad-monad itu. Maka karya leigniz tentang ini di beri judul menadologis (studi tentang monad / yang di seterusnya 1714. ini adalah serusnya).
1.      monad yang kita bicarakan di sini , adalah substansi yang sederhana, yang selanjutnya menyusun substansi yang sederhana,yang selanjutnya menyusun substansi yang lebih besar.
2.      harus ada substansi yang sederhana karena ada susunan itu, karena susunan tidak lain darisuatu koleksisubstansi sederhana.
Satu substansi sederhana ialah : substansi yang kecil yang tidak dapat di bagi. Adapun substansi yang berupa susunan (Compositas)jenis dapat di bagi. Akan tetapi, ada kesulitan di sini. Bila simple sub stance (monad) itu terletak dalam ruang, maka akibatnya ia mesti dapat di bagi. Oleh karena itu,Leibniz menyatakan bahwa semua monad itu haruslah material dan tidak mempunyai ukuran,tidak dapat di bagi
3.      sekarang, apa pun yang tidak mempunyai bagian – bagian terlentulah tidak dapat di bagi monad itu adalah atau yang sebenarnya pada sifatnya dan kenyataannya adalah unsure segala sesuatu.
4.      kerusakan, karena itu, tidakkan menjadi pada substansi itunya, karena tidak dapat di bagi karena immaterial itu.
5.      Dengan cara yang sama tidak ada jalan untuk memahami simple substansiitu di cipta (come into exintence) karena monad itu tidak dapat di bentuk dengan menyusun .
6.      Kita hanya dapat menatakan sekarang bahwa peniadaan, yang tersusun mempunyai permulaan dan berakhir melalui peniadaan. Yang terusan mempunyai permulaan dan berakhir secara berangsur
7.      monad tidak mempunyai kualitas, karenanya mestinya tidak akan pernah ada.
8.      Setiap monad harus di keadaan satu dengan lainnya karena tidak pernah ada isi alam yang sama sekalipun kita tidak dapat mengetahui perbedaan itu.
9.      tidak ada jalan masuk menjelaskan bagaimana monad-monad itu dapat perubahan dalam dirinya sendiri oleh sesuatu di luarnya karena tidak ada kemungkinan suatu yang masuk ke dalamnya.[2]
Masalahnya ialah setiap subtansi itu bebas, dan karena itu sesuatu yang lain tidak dapat melakukan sesuatu kapadanya satu sama lainya. Descartes menemui kesulitan dalam menyelesaikan hubungan mind dan body. Spinoza, sebagai monis, menyelesaikan masalah ini dengan cara yang amat sederhana: karena hanya ada satu substansi, maka persoalan ini tidak ada padanya. Akan tetapi, Leibniz adalah pluralis; ada lebih dari satu substansi, yang tidak dapat saling berintraksi. Monad itu tidak mempunyai jendela; mereka tidak memahami satu sama lain. Ia mengatakan, “Tidak ada yang dapat masuk dan keluar”. Dan Leibniz tidak mau mengambil penyelesaian lama bahwa monad-monad itu berkombinasi dan berkombinasi lagi untuk membentuk susunan. Jadi, bagaimana monad berubah? Mereka harus mempunyai perubahan tatkala meraka diciptakan tuhan, dalam dirinya sendiri. Jadi, perubahan monad ada secara internal, deprogram oleh tuhan tatkala menciptakanya. Perhatikan, monad itu imaterial, jadi ia “berkembang” tidak dapat dipahami oleh dunia fisik. Pertumbuhan (termasuk perubahan tentunya) terjadi secara internal, terjadi antarmonad; ini hanya dipahami oleh dunia monad itu. Disini kelihatan bahwa Leibniz seorang idealis.

BAB III

PENUTUP

 
  1. Kesimpulan
Dari apa yang telah kami uraikan diatas maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:
    1. Rasionalisme adalah paham yang mengangap bahwa pikiran dan akal merupakan dasar satu-satunya untuk memecahkan kebenaran lepas dari jangkauan indra
    2. descartes, spinoza dan Leibniz mereka adalah tokoh besar dalam filsafat rasionalisme.
    3. Resionalisme ada dua macam: dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas. Dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme.




DAFTAR PUSTAKA

Ø Ahmad Tafsir,Filsafat Umum,Bandung,PT Remaja Rosdakarya,2000.
Ø Asmoro Achmad,Filsafat Umum,Jakarta,PT RajaGrafindo Persada,1995.
Ø Poedjawijatna,Pembimbing kearah Alam Filsafat,Jakarta,Rineka Cipta,1997.
Ø  Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta, PT Bumi Aksara,2005.
Ø  Amma06.blogspot.com/2009/02/tokoh-tokoh-filsafat-modern.html



[1] Amma06.blogspot.com/2009/02/tokoh-tokoh-filsafat-modern.html
[2] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum,(Bandung,PT.Remaja Rosdakarya,2000),hal,127-141.


[1] Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta, PT Bumi Aksara,2005), hal, 66
[2] Asmoro Achmadi,Filsafat Umum,(Jakarta,PT.RajaGrafindo Persada,1995),hal,111-112.
[3] Poedjawijatna,Pembimbing kearah Alam Filsafat,(Jakarta,Rineka Cipta,1997),hal,175.